Aceh merupakan provinsi paling
barat di Negara Indonesia dan juga provinsi paling utara di Pulau Sumatra. Dengan
berada di ujung pulau yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia, tempat ini
termasuk tempat istimewa. Dengan memiliki banyak sekali potensi, dari potensi
alam, wisata, budaya, hingga potensi sejarahnya.
baca : wisata kota Jogja
Salah satu tempat bersejarahnya
adalah Museum Tsunami Aceh yang menjadi tempat untuk mengenang peristiwa pada
2004 silam. Waktu itu Aceh dilanda bencana alam yang besar, dengan terjadi
bencana tsunami. Yang menjadi peristiwa memilukan bagi warga Indonesia. Ratusan
ribu orang tewas bahkan tak sedikit yang hilang dan tidak berhasil ditemukan
keberadaannya. Rumah-rumah penduduk porak poranda dan fasilitas umum mengalami
kerusakan.
Museum ini dibangun di Jalan Sultan
Iskandar Muda No.3 Sukaramai, Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Ketika memasuki
bangunan, pengunjung akan menemukan beberapa ruangan yang akan dilalui. Ruangan
pertama, pengunjung akan menjumpai lorong tsunami. Begitu memasuki lorong ini,
pengunjung bisa mendengar gemuruh air dan kucuran air yang mengingatkan tentang
datangnya tsunami. Cahaya lorong juga dibuat remang dan suasananya sembab. Menggambarkan
kejadian ketika tsunami datang.
Ruangan kedua, terdapat ruangan kenangan
dengan 26 monitor yang menjadi lambang bahwa kejadian tsunami terjadi pada
tanggal 26 Desember 2004. Setiap monitor disini akan menampilkan foto dan
gambar orang yang menjadi korban tsunami dalam bentuk slide. Ruangan ketiga,
terdapat sumur doa yang memiliki bentuk silinder. Cahaya ruangan dengan tinggi 30 m ini dibikin
remang dan terdapat 2000 lebih nama yang menjadi korban bencana alam. Nama
tersebut tertera dalam setiap dinding sumur doa tersebut. Filosofi dari dibangunnya
ruang ini adalah kuburan masal para korban bencana tsunami. Pengunjung yang
datang, disarankan memanjatkan doa sesuai keyakinan yang dianut.
Setelah itu, pengunjung menjumpai
sebuah lorong cerbong yang didesain dengan lantai berkelok-kelok dan lantai
yang tidak rata. Yang dapat diartikan ketakutan, kebingungan dan keputus asaan
masyarakat waktu itu. Lorong ini didominasi warna gelap yang nantinya akan
membawa pengunjung menuju ke cahaya alami yang memiliki filosofi berupa harapan
dalam kehidupan.
baca : sewa mobil wisata
Di ruangan terakhir terdapat jembatan
harapan. Pengunjung akan melihat tegaknya 54 bendera dari 54 negara yang ikut
bersosialisasi dalam membantu masyarakat Aceh yang terkena tsunami. Di beberapa
bendera terdapat kata damai yang ditulis berdasarkan dengan bahasa negara
masing-masing.
Jangan lupa ketika berlibur di
kota ini, untuk mampir di museum ini..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar