Rabu, 22 November 2017

Perayaan Sekaten Yogyakarta

Perayaan upacara Sekaten sebagai upacara untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tepatnya pada tanggal 12 bulan Mulud(Robiullawal). Di Alun-alun Utara Yogyakarta, acara Sekaten ini diselenggarakan.
Dengan mengadakan upacara Sekaten ini, Sri Sultan Hamengku Buwana I ingin mengajak masyarakat Yogyakarta untuk memeluk Agama Islam. Yang mana, kata sekaten itu berasal dari bahasa Arab Syahadatain yang artinya dua kalimat syahadat. Tradisi ini terus berlangsung turun temurun sampai sekarang, Sri Sultan Hamengku Buwana X.
Saat ini, yang mana masyarakat Yogyakarta sebagian besar telah memeluk agama Islam, upacara Sekaten menjadi sarana interaksi warga yang menyerasikan antara budaya, religi dan ekonomi. Terlebih lagi, beberapa hari di Alun-alun Utara diadakan Pasar Malam Perayaan Sekaten sebelum puncak upacara Sekaten. Tentu saja hal ini menambah daya tarik wisatawan terutama masyarakat Yogyakarta sendiri.
Baca juga: Rental mobil Jogja murah di www.duniarentaljogja.com
Pada tanggal 5 bulan Mulud, saat malam hari, dimulailah acara Sekaten ini. Dua set gamelan Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu dibawa oleh para abdi dalem yang dikawal prajurit keraton dari pendapa Ponconiti menuju Masjid Agung. Kemudian dua set gamelann ini dimainkan setiap malam hari sampai tanggal 11 bulan Mulud. Pada tanggal 11 ini, dua set gamelan itu dikembalikan ke pendopo Ponconiti.
Puncak acaranya pada tanggal 12 bulan Mulud, mulai pukul 08.00, sebuah gunungan yang melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran Kerajaan Mataram yang terbuat dari beras ketan, berbagai macam makanan, sayuran dan buah-buahan dibawa dari Istana Kemandungan menuju Masjid Agung yang dilewatkan Sitihinggil dan Pagelaran. Gunungan itu dikawal oleh 10 bregada - bregada prajurit kraton.
Gunungan tersebut dipanjatkan do'a kemudian di bagikan kepada masyarakat. Masyarakat berebut untuk mendapatkannya. Karena masyarakat mempercayai bagian dari gunungan itu sebagai berkah yang bisa mendatangkan kemakmuran dan mencegah marabahaya. 
Anda ingin menyaksikan upacara Sekaten? Silahkan klik di sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar