Senin, 26 Februari 2018

Berkunjung di Gedung Tsunami Aceh, sembari mengenang kejadian belasan tahun silam



Aceh merupakan provinsi paling barat di Negara Indonesia dan juga provinsi paling utara di Pulau Sumatra. Dengan berada di ujung pulau yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia, tempat ini termasuk tempat istimewa. Dengan memiliki banyak sekali potensi, dari potensi alam, wisata, budaya, hingga potensi sejarahnya.
Salah satu tempat bersejarahnya adalah Museum Tsunami Aceh yang menjadi tempat untuk mengenang peristiwa pada 2004 silam. Waktu itu Aceh dilanda bencana alam yang besar, dengan terjadi bencana tsunami. Yang menjadi peristiwa memilukan bagi warga Indonesia. Ratusan ribu orang tewas bahkan tak sedikit yang hilang dan tidak berhasil ditemukan keberadaannya. Rumah-rumah penduduk porak poranda dan fasilitas umum mengalami kerusakan.
Museum ini dibangun di Jalan Sultan Iskandar Muda No.3 Sukaramai, Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Ketika memasuki bangunan, pengunjung akan menemukan beberapa ruangan yang akan dilalui. Ruangan pertama, pengunjung akan menjumpai lorong tsunami. Begitu memasuki lorong ini, pengunjung bisa mendengar gemuruh air dan kucuran air yang mengingatkan tentang datangnya tsunami. Cahaya lorong juga dibuat remang dan suasananya sembab. Menggambarkan kejadian ketika tsunami datang.
Ruangan kedua, terdapat ruangan kenangan dengan 26 monitor yang menjadi lambang bahwa kejadian tsunami terjadi pada tanggal 26 Desember 2004. Setiap monitor disini akan menampilkan foto dan gambar orang yang menjadi korban tsunami dalam bentuk slide. Ruangan ketiga, terdapat sumur doa yang memiliki bentuk silinder.  Cahaya ruangan dengan tinggi 30 m ini dibikin remang dan terdapat 2000 lebih nama yang menjadi korban bencana alam. Nama tersebut tertera dalam setiap dinding sumur doa tersebut. Filosofi dari dibangunnya ruang ini adalah kuburan masal para korban bencana tsunami. Pengunjung yang datang, disarankan memanjatkan doa sesuai keyakinan yang dianut.
Setelah itu, pengunjung menjumpai sebuah lorong cerbong yang didesain dengan lantai berkelok-kelok dan lantai yang tidak rata. Yang dapat diartikan ketakutan, kebingungan dan keputus asaan masyarakat waktu itu. Lorong ini didominasi warna gelap yang nantinya akan membawa pengunjung menuju ke cahaya alami yang memiliki filosofi berupa harapan dalam kehidupan.
Di ruangan terakhir terdapat jembatan harapan. Pengunjung akan melihat tegaknya 54 bendera dari 54 negara yang ikut bersosialisasi dalam membantu masyarakat Aceh yang terkena tsunami. Di beberapa bendera terdapat kata damai yang ditulis berdasarkan dengan bahasa negara masing-masing.
Jangan lupa ketika berlibur di kota ini, untuk mampir di museum ini..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar